Selasa, 11 Juli 2017

Libur Lebaran di Jogja

Jogja, kota yang terkenal dengan slogan “jogja istimewa” ini telah  banyak sekali orang yang terpesona sesuai dengan lirik lagunya kla project “setiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa mana”. Betapa hangatnya suasana jogja bagi setiap orang yang mengunjunginya.

Kali ini saya kan bercerita libur lebaran di kota yang istimewa. Mungkin orang ada yang bertanya kenapa libur lebaran dijogja, di sana kan ga ada yang jualan baik makanan maupun transportasinya susah ketika lebaran. Nah berdasarkan penasaran orang itulah kenapa saya libur lebaran di Jogja untuk membuktikan bener ga sih kata mereka itu.

Di hari pertama lebaran suana di Jogja begitu sepi dari hiruk pikuk bunyi knalpot serta klason orang-orang yang hidupnya penuh dengan terburu-buru. Tapi ini hanya berlaku buat beberapa jam saja yah karena pengunjung yang ingin berlibur ke kota Jogja belum sampai di kota Istimewa ini, haha.

Saya memulai hari pertama lebaran saya dengan jalan-jalan di malioboro tempat yang pasti disinggahi kalau sudah di Jogja. Ketika bus transjogja ini berhenti di salah satu halte di malioboro ini saya melihat tidak banyak perbedaan sebelum dan pas lebaran. Masih banyak toko yang buka dan juga banyak loh turis-turis luar negeri dari hari biasanya. So, aku ini sama seperti mereka juga kah? Haha.

Selain toko-toko yang buka, ternyata buat cari makan pun tak sulit mulai dari pedagang kaki lima sampai pedagang yang jual sop kaki ayam dan sapi pun buka loh tinggal cek isi dompet mau beli yang mana. Cuma ada beberapa pedangan menambahkan catatan seperti “selama lebaran harga + 2000” catatan yang masih wajarlah yah di kala orang masih suasana lebaran dia tetap melayani orang malah libur.

Kalau mau jalan-jalan selain di malioboro bapak-bapak yang punya becak menawarkan paket wisata keliling dagadu, batik sampai toko oleh-oleh bakpia patuk pun ada. Ini menunjukan tanda alam bahwa toko-toko yang berada jauh dari malioboro pun buka.  lumayan kan dari pada harus liburan jauh-jauh tapi macet mending di malioboro dan sekitarnya menikmatinya sambil naik becak kan asyik apalagi sama pasangan.

Jadi, kalau mau ke jogja pas libur lebaran ga usah panik kalau semuanya ga ada. Mulai dari penginapan, transportasi, makanan dan toko-toko pun masih setia buka kok pas lebaran. Cuma ya itu tadi kalau harga lebih mahal sedikit, yah harap maklum yah. Namanya juga lagi lebaran kan uang THR nya bisa bagi-bagi ke penjual. Selama liburan tetap kalem dan jangan melakukan hal yang aneh-aneh. Ok, Mohon Maaf Lahir Batin yah :* :*
Share:

Minggu, 28 Mei 2017

Merdu dan Syahdu, Hutan Pelawan Desa Namang.

Desa Namang, dahulunya banyak yang tahu akan desa ini karena ada salah satu wisata yang beda dari lainnya yang menyuguhkan keindahan pantai. Sedangkan desa ini jauh dari pantai. Warga desa ini pun banyak yang berkebun dan bersawah.  Berdasarkan informasi yang saya cari di google tahun 2010 dibuka lah tempat wisata yang beda dari desa yang ada di Bangka lainnya.

Wisata Hutan Pelawan, itulah nama tempat wisata yang ditawarkan oleh Desa Namang. Seperti yang bilang tempat ini sempat booming di tahun 2010 berdasarkan informasi yang di dapatkan di google yah. “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”  kira-kira begitu kata orang tua jaman dahulu.hehe. Saya termasuk bukan orang yang hitz untuk tempat destinasi wisata. Ketika tempat wisata itu baru dibuka saya tidak langsung kesana kok tapi nunggu moodnya baru berangkat.

Berjarak 52 km dari kota pangkalpinang. Tempat wisata ini tidak mudah ternyata untuk dicari. Tidak banyaknya rambu yang jelas jadi saya harus banyak bertanya kepada warga Desa Namang ini. Entah ini bukti keseriusan atau memang sengaja membuat konsep biar orang rajin bertanya jangan asal lewat aja  yang jelas sempat beberapa kali nyasar.

Jalan menuju hutan pelawan ini tergolong sangat bagus dan pemandangannya juga nyegerin, jalan ber aspal tanpa ada rusak, kiri kanan kebun dan ada juga sawah kadang juga kita melihat tempat permandian umum atau sungai yang bersih bisa memacu kita untuk langsung mau nyebur,hehe.
Ketika sampai disana saya melihat suasana sangat sepi padahal waktu itu saya sampai disana sekitar jam sebelas siang yang harusnya bisa lebih cepat karena hilang penunjuk arah seperti aku kehilangan dirimu, haha. Ada di benak sih kenapa sepi yah? Padahal kalau saya googling muncul gambar suasana ramai dan padat kayak otot ade rai.

Tidak ada biaya masuk ke wisata hutan pelawan ini. Saya cuma dikenakan biaya parkir sebesar tiga ribu rupiah dari yang jaga parkir. Padahal kalaupun di kenakan biaya masuk tidak mengapa toh membuka tempat wisata itu sebtulnya tidak lah murah biaya perawatannya. Sebelum saya masuk ke dalam wisata Hutan Pelawan ini saya mlipir dulu ke tempat informasi yang ternyata tak ada penjaga jadi cuma ada denah serta jenis binatang yang menjadi penghuni hutan.

Berarti fix tempat ini sebetulnya sudah tidak berjaya lagi untuk di promosikan ke orang lain. Apa yang saya dapat dari tempat informasi tidak mengurungkan niat saya untuk menapakan kaki serta berswafoto disini. Akses jalan di dalam Hutan Pelawan ini sebetulnya sangat bagus kenapa demikian karena jalan yang sudah disemen jadi tidak ada becek ketika hujan ataupun habis hujan.

Ada nama yang terukir di setiap batang pohonnya jadi kita bisa tahu siapa pemilik pohon ini, haha. Tadi itu contoh yang tidak baik sebetulnya, beneran di setiap pohon ada diberi label sehingga kita bisa tahu jenis dan nama pohon yang ada dihutan ini. Ada tempat pembibitan tapi nampaknya sudah tidak ada bibit lagi dan nampaknya ga ada bibit-bibit baru lagi.
Tanda pada pohon yang seharusnya tak perlu

Pada setiap jalan kita akan berpapasan dengan tong sampah yang mana sampahnya berceceran dimana-mana. Tapi untung udara disana masih segar jadi tak begitu berpengaruh lah sama sampah-sampah plastic tadi. Oh iya di dalam hutan ini ada disediakan toilet tapi airnya kita harus menimba sendiri sebelum berhajat. Tapi apa daya wisata hutan pelawan ini sudah tidak berjaya lagi jadi ketika mau ketoilet satu-satunya yang ada didalam hutan ini kita bakal menemukan banyak sampah masyarakat. Tapi, untung aja udara disini masih seger dan adem suasananya jadi tak begitu masalah lah.

Sampah plastik yg harusnya tidak ada.

Lupakan permasalahan dari marking yang ga jelas di pohon, sampah plastik
dimana-mana serta apalah itu tetek bengeknya saya terus berjalan akhirnya saya sampai juga di spot yang menjadi andalan orang kalau berswafoto. Jembatan merah begitulah orang bilangnya itu karena jembatan ini di cat warna merah, hehe.

Tidak semua jembatan ini masih layak karena banyak yang sudah ambruk dimakan oleh waktu serta beban orang tak kuasa menahan napsu makan. Jadi hanya beberapa meter saja jembatan ini yang masih bisa kita lalu untuk berswafoto dengan latar alam.
Beberapa bagian jembatan yang ambruk

Tapi saya melihat sudut lain dari tempat ini. Ternyata ditempat ini kita bisa mendengar bermacam-macam suara burung saling bersahutan terkadang juga ada burung dengan corak bagus bermain-main disekitar saya. Ditambah lagi angin yang sepoi-sepoi seakan-akan membuat minat saya untuk bangun rumah tangga, haha.  Oh iya, bagi kalian yang suka foto-foto burung disini tempatnya sangat cocok buat kalian gais!

Jadi, dibalik banyak minus-minusnya tempat ini mungkin karena kurang diperhatikan lagi kita bisa mendapat hal yang berbeda seperti  suara burung yang saling bersahutan dengan merdunya, bisa menenangkan diri disini juga karena suasana yang adem dan asri. Mungkin kedepannya pengurus mulai mau untuk mengelola atau menata ulang karena tempat ini wajib ada di pulau Bangka.




Share:

Rabu, 26 April 2017

Piknik Yuk Ke Pulau Putri Bangka

Pulau putri, ketika saya hendak menulis tentang pulai ini saya coba googling dulu, ada sekitar empat yang muncul. Pulau Putri sibolga, Pulau Putri kepulauan seribu, Pulau Putri batam dan Pulau Putri bangka. Kali ini saya akan menceritakan perjalanan saya ke Pulau Putri Bangka. Pulau yang ingin saya kunjungi sejak abad masehi ini, haha baru bisa terealisasi sekarang. Kenapa baru terealisasi sekarang karena untuk sampai ke pulau ini kita harus tau kondisi air laut saat itu karena ketika air laut naik daratannya bisa tidak terlihat, gimana serem kan? Padahal biasa aja.

Pulau putri ini sempat ramai dua atau tiga tahun yang lalu karena masuknya kapal dari sebuah PT untuk operasi tambang timah laut. Akhirnya kapal itu cari lokasi lain untuk kegiatan mereka. Itu aja info yang saya tahu. Selain dari berita itu saya juga mencari informasi baik secara langsung maupun via media sosial tentang pulau putri yang ada di bangka ini. Kalau berdasar info dari teman atau media sosial mereka bilang ga rekomendasilah untuk berkunjung kesana.

Hasil pencarian informasi saya cuma untuk rasa penasaran saja sih terlepas baik atau buruknya informasi yang saya dapatkan saya tetap berangkat dong, hehe. Pulau putri terletak di utaranya pulau bangka dengan jarak tempuh sekitar 110 KM kalau dari kota pangkalpinang. Untuk menuju ke destinasi tersebut saya menggunakan google maps dan alhamdulillahnya sinyal sepanjang jalan lancar untuk provider warna merah. Atau jika kalian mau pergi kesuatu tempat baru menurut kalian ada baiknya download dulu map nya ketika tidak ada sinyal kalian sudah punya database untuk lokasi yang ingin kalian datangi.

Akhirnya saya sampai di Pantai Penyusuk. Pantai yang menjadi tempat untuk kita menyebrang ke Pulau Putri. Pantai Penyusuk ini juga bagus, bersih dan terawat jadi kalau tidak bisa menyebrang ke Pulau Putri kalian pun bisa menikmati suasana Pantai Penyusuk saja. Untuk menyebrang di kepulau ini kita tinggal menuju kapal atau cari informasi disekitar warung yang ada di Pantai Penyusuk.
Tidak begitu lama waktu untuk menyebrang dari Pantai Penyusuk ke Pulau Putri ini lebih kurang sepuluh menit sampai deh di Pulau Putri. Sebelum kapal menepi saya lihat kebawah terumbu-terumbu karang sudah terpampang jelas sekali jadi pengen langsung nyemplung aja bawaanya, hehe.
Setibanya di pulau putri saya disambut oleh air laut yang jernih dengan ombak yang tenang, batu granit yang besar pun seakan menyambut saya dengan hangat. Pulau putri ini hanya pulau kosong tapi memiliki terumbu karang yang beraneka ragam indahnya. Sebelum saya membahas tentang terumbu karangnya saya akan membahas suana di pulau ini.

Pulau Putri sebetulnya kecil sekali paling masih lebaran rumah yang dijual sama mbak penirose di tipi-tipi deh,haha. Pulau ini bersih, cuma sayangnya yang berjualan dipulau ini hanya di hari sabtu dan minggu saja. Jadi kalau kesini harus selain hari itu harus janjian sama yang punya lapak baik makanan atau persewaan ban dan lain-lainnya. Ada ruang ganti baju tapi tidak ada kamar mandi air tawar jadi habis main air laut kita harus mandi air tawar ke pantai penyusuk.
Pulau Putri Sehabis Hujan Tetap Ramai

Lupakan tentang minus tersebut yang jelas di pulau ini cocok untuk sekedar untuk merefresh otak dari hingar bingar suara kenalpot kendaraan. Terumbu karang yang indah disini adalah tawaran yang menarik dari pulau ini. Tak perlu ketengah laut untuk ber snorkling cukup berenang sedikit di pinggir-pinggirnya sudah bisa menikmati terumbu karangnya karena pulau ini sudah dikelilingi terumbu karang tapi ingat jangan sampai dipegang atau di injak yah agar terumbu karangnya tidak rusak.

Ikan-ikan kecil berwana warni pun banyak di sekitar terumbu karang dan juga ada ikan yang menjadi idola banyak orang. Ya, ikan badut atau para pemilik kapal sering bilang ikan nemo, dipulau ini banyak sekali rumah ikan tersebut tapi para pemilik kapal sebetulnya lebih enggan memberitahu karena sebelumnya ada orang yang iseng “merusak” tempat tinggal ikan tersebut.

Ada kebingungan juga dari orang yang memberikan tumpangan ke pulau putri ini ketika mereka ditanyakan apakah disini terdapat ikan nemo, karena dia tidak tahu apakah orang dia beritahu itu orang yang bisa menjaga atau tidak. Soalnya tidak semua orang yang ke pulau ini hanya bermain didarat atau basah-basahan manja karena ada juga yang ingin mengeksplore semuanya.
Rumah Ikan Badut

Mungkin dalam waktu dekat saya akan berkunjung kembali ke pulau ini karena pulau ini sangat rekomendasi menurut saya untuk bersantai sambil camping ataupun cuma pergi memancing saja. Mana tau kan ada dari kalian ada yang ingin ajak saya kesana dengan waktu yang sudah ditentukan bisalah kita bicarakan.




Share:

Minggu, 26 Maret 2017

Benteng Kota di Desa Tempilang

Tempilang, adalah desa yang berada di Pulau Bangka. Desa yang berjarak 72 km dari pusat kota Pangkalpinang terkenal dengan kegiatan perang ketupat di bulan Ruahan. Berdasarkan info dari seorang teman saya pun ingin mengunjungi tempat bersejarah yang ada di sana.

Saya menuju desa Tempilang dengan sangat mudah, karena medan menuju desa tersebut tergolong bagus dengan jalan beraspal. Selain itu, sinyal pada ponsel seluler pun lancar, sehingga saya bisa menggunakan google maps untuk memandu perjalanan saya. Alasan saya menggunakan google maps adalah untuk mencari jalan yang lebih singkat, karena bila mengikiti petunjuk lokal makan jarak tempuh akan mencapai 90 km. Jauh, kan? Tapi kalau kalian memilih untuk melalui jalan tersebut sih nggak masalah.

Sepanjang jalan kenangan, eh, maksud saya sepanjang jalan menuju desa Tempilang ini saya melihat hutan di kanan dan kiri jalan. Tak jarang juga saya melihat kebun milik warga. Saya pun melihat beberapa orang mandi di sungai yang aliranya jernih. Saya menjamin, bila perjalanan kalian menuju desa Tempilang ini tidak akan terasa bosan.

Sesampainya di desa tempilang ini kalian akan menyaksikan desa kecil tapi dengan fasilitasnya yang lengkap. Jika kamu kalau kehabisan bensin banyak yang jualan di sini. malah terkadang kamu juga menjumpai pom bensin mini, lho!. Kalau kamu lapar, dan butuh mau cari cemilan ada banyak mini market di sepanjang jalan. Inget mini market bukan warung yah, haha. mau cari jodoh pun banyak yang cantik cantik. Jadi jangan berpikiran kalo di desa itu sepi dan kurang menyenangkan gitu yah.

Masalah muncul ketika kita mau ke situs benteng kota ini. Google maps yang saya gunakan sebagai panduan tidak memberikan lokasi yang akurat. Jadi harus balik ke cara lama, kita harus bertanya kepada masyarakat sekitar. Syukurlah warga sekitar ramah dan tahu lokasi situs benteng kota yang akan saya tuju. Mereka pun sangat antusias memberikan direksi kesana secara tepat dan jelas.

View Benteng Kota - Tempilang
Setibanya di lokasi saya merasa takjub dengan kondisi Benteng yang nampak bersih. Namun sayang, saya tidak menemukan seorang pun di sana. Saya hanya berfikir apakah saya datang terlalu pagi? Atau mungkin pengunjung mulai ramai ketika sore hari? Entahlah.

Puing-Puing Benteng Kota 
Rasa penasaran saya terhadap bangunan yang kondisinya sudah tak utuh lagi ini belum terjawab. Saya tidak menemukan informasi yang konkrit perihal bangunan tersebut. Padahal kawasan di Benteng ini nampak terawat. Sangat disayangkan bukan?

Ketika saya melihat lebih dekat lagi, saya menemukan beberapa rumah keong dan siput pada reruntuhan bangunan tersebut. Diduga material bangunan atersebut berasal dari pasir pantai. Namun saya belum dapat menyimpulkan bangunan tersebut. Dugaan Benteng bisa jadi benar, karena tingginya tembok bangunan.

penampakan Rumah Keong dan Pasir pantai pada tembok 
Dinding yang tebal serta tinggi bisa saja ini serta bentuk-bentuk jendela yang besar bisa menguat kalau memang benar ini bekas peninggalan sejarah. tapi apakah fungsi dari bangunan ini dahulunya? sayangnya itu belum bisa terjawab oleh saya karena tidak mendapat informasi yang cukup.
Bekas Jendela

benteng kota di desa tempilang ini tempat yang rekomendasi untuk dikunjungi. selain tempatnya yang bersih dan terawat dan jarak tempuh pun tidak terlalu jauh. oh iya, tempat ini instagramable deh buat kalian yang suka foto maupun explore tempat baru. 

semoga kedepannya tempat ini dilengkapi dengan penjelasan/edukasi yang terpajang di sekitar situsnya agar para pengunjung yang datang bisa tahu sejarah dari situs tersebut


Share:

Kamis, 08 Desember 2016

Turun Aban Asyik loh.

spot poto
Akhir pekan nampaknya asyik menghabiskan waktu di pantai. Seperti kegiatan saya di akhir pekan lalu. Menurut versi saya, liburan saya kali ini terkesan seru. Meskipun kedengarannya agak lebay alias berlebihan. Pantai yang saya kunjungi adalah pantai Turun Aban yang terletak di daerah Sungailiat, Bangka. Sepanjang perjalanan ke pantai Turun Aban, kalian akan disuguhi sederet pemandangan pantai lainnya, mulai dari pantai Batu Bedaun, pantai Parai, pantai Turun Aban hingga pantai Matras.

Dalam sekali tempuh, kita akan menjumpai banyak pantai di sepanjang perjalanan kita. Tinggal kalian memilih pantai mana yang akan kalian singgahi? Namun kali ini saya lebih memilih pantai Turun Aban. Menurut kata orang, pantai Turun Aban beradal dari nama pemilik tanah di area tersebut, sedangkan Turun sendiri diambil dari kondisi jalan yang menurun ketika menuju pantai tersebut. Begitulah sedikit info yang bisa saya sampaikan.


Perjalanan dari Pangkalpinang ke pantai Turun Aban

Saya memulai perjalanan dari pangkalpinang ke pantai Turun Aban tanpa menggunakan google maps, karena akses jalan ke sana sangat jelas. Petunjuk jalan sangat mudah sekali dibaca, selain itu hanya satu jalan untuk menuju ke sana.

karena emang cuma satu jalur untuk menuju kesana tapi kalau mau menggunakan google maps juga tidak masalah kok. Mana yg kalian suka aja, hehe. Berdasarkan waktu tempuh jam tangan saya, untuk sampai ke pantai Turun Aban kurang lebih 30 menit sampai 45 menit. Itu sudah include terkena lampu merah berapa kali, loh. Haha.

Biaya Retribusi yang tidak jelas
Sampai di kawasan Matras kendaraan kita akan dihentikan oleh "petugas" tak berseragam yang bebas memungut retribusi untuk masuk ke area pantai. Saya sebetulnya agak bingung sama retribusi daerah ini, untuk apa? Akses jalan menuju pantai masih terlihat belum beraspal dengan tanah kuning. Entah emang konsepnya mau dibikin alami atau gimana? aku pun kurang tau, deh. Tempat untuk bersantai seperti pondok atau gubuk di beberapa pantai dikenakan biaya sewa. Jadi, apa yg bisa kita nikmati dari pembayaran biaya restribusi? Entahah mungkin dia dan tuhan yang tau, hhaha

Apa aja yang ada di Pantai Turun Aban

Pantai Turun Aban ini sebetulnya tempat berlabuhnya kapal nelayan. Jadi, tak heran ketika kita berkunjung ke sana akan menjumpai banyak sekali kapal nelayan yang sedang berlabuh. ada masanya kita berkunjung ke pantai ini banyak sekali kita lihat kapal nelayan menepi. Tapi ingat yah, kita tidak boleh sembarangan naik kapal nelayan ini, karena sudah ada larangan tertulis “dilarang  naik ke atas kapal”.

Di pantai Turun Aban ini terdapat batu-batu granit yang menjulang tinggi dengan pasit putih. Yah, mirip seperti pantai yang kalian lihat pada film laskar pelangi. Selain itu kalian dapat melihat pemandangan unik ketika perahu nelayan tersangkut batu granit besar di tengah laut. Jika kalian suka dan tertarik dengan wisata bawah laut, pantai ini juga memiliki spot snorkeling indah. Menariknya kita tak perlu jauh-jauh berenang atau naik kapal ke tengah laut untuk mendapatkan spot underwater tersebut, karena letaknya di tepian pantai.
Pantai ini memiliki tepian yang luas dan cocok buat kalian yang ingin bertamasya ke pantai dengan menggelar tikar untuk makan bersama atau bakar-bakar ikan. Asyik bukan? Tapi ingat, apapun aktivitas kalian, jangan lupa buang sampah pada tempatnya, ya!

Traveling akan terasa kurang bila kita melewatkan moment foto-foto, selfie atau wefie. Ya, bagi kalian yang suka dengan hal tersebut kalian bisa manfaatkan spot di sebelah atau di depan tulisan “Pantai Turun Aban”. Selain itu batu-batu granit pun dapat menjadi salah satu spot yang menarik untuk berfoto ria. Batu-batu tersebut Nampak cantik ketika masih alami dan bebas dari coretan tangan-tangan kreatif yang tak bermoral.
Pantai ini memiliki lahan parkir yang luas dan lebih tertata dan terlihat ada petugas jaga. Jadi gak kayak setan yang tiba-tiba muncul saat kita pulang dan pada saat kita datang dia gak ada. Haha. Beberapa fasilitas lainnya adalah mushola untuk ibadah bagi pengunjung muslim. Pantai ini terlihat cukup bersih, meskipun ada beberapa sampah yang masih terlihat, entah siapa yang membersihkannya?


Nah, gimana udah terasa belom aura-aura kasihnya? Eh, aura mau liburan ke pantai Turun Aban ini? Kalau mau, boleh deh kita berangkat sama-sama. Dengan syarat waktu luang kita berjodoh, ya! Hehe.  yah tapi harus cocok-cocokan waktu dulu yah. Hehe
Share:

Rabu, 23 November 2016

Pulau KETAWAi

TPI desa kurau
Pulau Ketawai. Pulau kecil yang terletak di sebelah timur pulau bangka. Pulau ini sudah menjadi destinasi setiap wisatawan yang berkunjung ke Pulau Bangka. Kali ini, saya akan berbabagi cerita sedikit ketika menikmati liburan di Pulau Ketawai.

Di Pulau Ketawai ini kalian tidak memerlukan bantuan google maps lagi. Kalian hanya butuh cari open trip untuk perjalanan kesana. Enaknya ikut open trip adalah kalau kalian berasal dari luar pulau Bangka pasti kalian akan di jemput ketika tiba di Pulau Bangka. Selain itu juga, kalian tidak harus membuat janji jauh-jauh hari dengan pemilik kapal.

Apa sih yang ditawarkan oleh pulau ketawai ini? Yang pasti menawarkan pantai dan pasir putih, haha. Seperjalanan saya ke pulau ketawai ini saya melihat pantai yang bersih dan dirawat karena ada beberapa orang disana yang memang membantu membersihkan pantai. 

Ada juga beberapa fasilitas yang disediakan walaupun terkesan seadanya seperti, lapangan voly atau bola pantai, tempat pemanggangan ikan, jogging track, camping spot, spot snorkling, sewa alat snorkling, mushola, dan air bersih. Untuk sebuah pulau yang pernah ramai pada masanya ini bisa dikatakan siap walaupun seadanya. 

Kalau kalian tidak mau open trip kalian bisa bertanya kepada nelayan di desa Kurau yang biasa nganter penumpang ke pulau ini. Tapi, tidak semua nelayan mau mengantar ke pulau tersebut, entah apa alasannya  tidak mau. Lama perjalanan menuju pulau Ketawai ini lebih kurang sekitar tiga puluh menit. Berangkat dari Pangkalpinang ke desa Kurau.

Spot snorkling dipandu sama ahlinya
Tapi ada hal yang sangat saya sayangkan ketika saya snorkling di sekitar pulau Ketawai ini. Ya, pasti kalian semua sudah tahu. Ada beberapa spot karang yang rusak akibat perilaku seenak jidatnya pengunjung. Ini adalah hal yang sangat disayangkan karena bisa tumbuh sebesar itu, mereka butuh waktu yang sangat lama sekali tapi dirusak sangat cepat sekali. 

Sangat diharapkan bagi kalian yang ingin melakukan snorkling di manapun itu, tolong untuk jangan merusak terumbu karang. Oh iya kalau kalian sunset hunter dipulau Ketawai ini dijuluki oleh yang punya kapal sunset yang dimakan pulau Bangka”.

Share:

Senin, 31 Oktober 2016

Tanjung berikat tak memikat


Tanjung berikat. Jika kita lihat pada peta atau google maps letaknya di "ekor" pulau bangka. Berdasarkan mitos yang sampai ke telinga saya, Tanjung Berikat ini terkenal dengan pantai berpasir putih lembut kayak kulit bayi, kaya akan hasil lautnya dan bisa melihat sunset atau sunrise di lokasi yang sama. Jadi, banyaknya mitos yang masuk ke dalam kepala saya ini membuat saya memutuskan untuk mencari informasi mengenai Tanjung Berikat. Mulai dari jarak tempuh, jalan yang harus dilalui sampai siapa teman yang harus saya ajak. Biar ada temen ngobrolnya dijalan. Ehehe.
Dua hari sebelum keberangkatan ke Tanjung Berikat saya mencoba mengajak beberapa temen secara langsung dan alhamdulillahnya yg bisa cuma satu orang saja. Tapi, dia mengajak sepupu serta om dan tantenya. Karena masih merasa harus lebih rame lagi biar kayak touring-touring moge gitu kan asyik liatnya bisa, sampe dikawal sama pak polisi, hehe.

H-1 saya coba buat ajakan di sosmed, dengan asumsi ada yang mau ikut biar bisa ketemu temen baru bisa nambah relasi baru. Ternyata, sampai hari H tidak ada satu pun yang ikut. Tapi, yang like lumayan banyak, haha. Ternyata saya belum menarik buat membuat orang lain tertarik sama ajakan saya, yaiyalah saya buat ajakan jalan-jalannya pada saat weekdays, hehe.

Pagi saat keberangkatan ternyata air hujan mulai jatuh perlahan ke bumi sehingga membuat perjalanan kami sempat tertunda. Awalnya kami mau berangkat pukul 7 pagi biar bisa puas main disana karena jarak yang ditempuh kurang lebih tiga jam. Karena tekad yang besar untuk pergi kesana kami pun tetap menunggu sampai hujan berhenti. akhirnya kami baru memulai perjalanan kami pukul 9 pagi dengan semangat masih membara.

Berdasarkan informasi yang saya kumpulkan dari teman-teman dan google, Tanjung Berikat ini masih masuk Bangka Tengah. Berangkat kita ke Tanjung Berikat dari Pangkalpinang, cuaca perlahan mulai cerah sehingga kami bisa memacu motor dengan ngebut agar bisa mengejar waktu yang telah tertunda karena hujan sebelumnya.

Pemandangan selama perjalanan sangatlah menyenangkan karena mata kita akan ditemanin biru air laut dan putihnya pasir pantai mulai dari desa Kurau sampai desa Terentang. Jalan menuju kesana pun sangat mudah karena penunjuk arah yang jelas.

awan begitu tebal sehingga matahirnya ketutup
Satu jam pertama perjalanan kami sangat lancar dan kami pun memutuskan untuk berhenti istirahat sebentar di Koba sekalian isi amunisi dan bertanya kepada warga sekitar arah jalan menuju ke Tanjung Berikat. Setelah cukup istirahat kami lanjutkan perjalanan menuju ke sana dengan bermodal informasi yang udah di dapat dari warga saat istirahat tadi.
Baru sekitar berapa kilometer kami berjalan tiba-tiba langit mulai merubah moodnya, dari putih cerah jadi agak keabu-abuan. Akhirnya perjalanan kami pun terhenti di kampung Lubuk, karena hujan yang begitu lebat. Setelah satu jam lebih, hujan akhirnya berhenti dan kami pun melanjutkan perjalnan lagi tapi, om dan tante dari teman saya memilih tidak melanjutkan dan beristirahat di rumah saudaranya yang ada di desa Lubuk.

Jalan dari desa Lubuk mulai mengecil mungkin untuk dua mobil yang berpapasan salah satu mobil harus mengalah banyak ke bahu jalan. Masalah mulai timbul ketika penjunjuk jalan ke Tanjung Berikat ini tidak jelas di desa Perlang dan kompakan juga dengan google maps yang memberikan direksi yang sebetulnya jalannya tidak ada. Jadi, balik ke semula harus bertanya kepada warga sekitar desa Perlang.

Untungnya warga perlang ini memberikan petunjuk yang tegas. "Kalau belum ketemu desa Beriga jangan berenti untuk tanya lagi kemana jalan Tanjung Berikat" namun saya masih merasa bingung dan bertanya lagi. “Tapi, ini jalannya banyak cabangnya, saya harus pilih yang mana?”

"Ikutin aja jalan lurus aja sampai ketemu desa Beriga yah." Tegas salah satu warga.

Selama perjalanan sampai ke desa Beriga, banyaknya pemandangan yang tidak mengenakan di kiri maupun di kanan jalan. Banyaknya aktivitas tambang timah yang mungkin ilegal merusak hutan dan dataran pulau bangka. Padahal imbas dari pembukaan lahan tambang timah ini berakibat hutan gundul, limbahnya membuat sungai menjadi keruh dan pendangkalan. Selain itu banyaknya muncul danau-danau ajaib yang sebetulnya adalah aib tapi, dibangga-banggakan menjadi "danau". Malah ada "danau" bekas galian timah ini dijadikan tempat wisata padahal itu sangat tidak layak dijadikan tempat wisata.

Sampailah kami di desa Beriga dengan selamat karena selama perjalanan untuk sampai ke desa Beriga ini banyak jalan dan jembatan yang sedang di renovasi jadi tidak bisa jalan cepat kayak pembalap, hehe. Di desa Beriga ini kami berhenti bertanya sesuai arahan warga di desa Perlang tadi.

Dari desa Beriga ke Tanjung Berikat membutuhkan waktu 15 menit itu pun karena lagi ada perbaikan jalan, coba kalau jalannya mulus? Ya mana aku tau, haha. Akan tetapi, pemandangan yang kita dapatkan sepanjang perjalanan sangat berbeda dengan desa-desa sebelumnya. Di sebelah kanan kita akan menyaksikan pantai dan disi sebelah kiri kita menyaksikan hutan yang rindang dan rimbun. Jadi, kita bisa enjoy di jalan walaupun jalannya hancur karena sedang ada perbaikan jalan.

Sisi selatan Pantai Tanjung Berikat
Akhirnya, sampai juga saya di Tanjung Berikat setelah melewati jalan yang sedang banyak perbaikan. kesan awal melihat tanjung berikat ketika sampai begitu sangat antusias, saya pun segera ingin langsung berenang ke laut. Setelah saya perhatikan kiri dan kanan kok rasa-rasanya ada yang aneh dengan Tanjung Berikat ini. Salah satu keanehannya sepanjang pantai hanya ada dua gazebo untuk pantai yang begitu luas itu pun kondisi gazebonya sangat-sangat tidak terawat.

Dari kejauhan kami melihat ada semacam mercusuar di ujung dari tanjung berikat, sehingga kami putuskan untuk menyusuri jalan pantai ini. Selama penyurusan jalan ternyata ada hal yang lebih menarik lagi yang kami temui. Ya, pantai yang bagus, berpasir putih lembut, batu-batu besar yang dengan gagahnya berdiri serta jalan yang jelek harus dinodai oleh tumpukan sampah-sampah. Entah itu sampah dari kenangan mantan, sampah pengunjung pantai atau sampah yang hanyut terbawa oleh air laut.

Penyusuran kami untuk mencapai semacam mercusuar pun terhenti karena jalan yang tidak memungkinan untuk dilalui, tapi selama penyusuran kami mendapatkan sisi lain dari dari tanjung berikat yang berbeda. Di sisi  utara pantai ada pantai lagi yang benar-benar bersih seakan-akan tidak pernah terjamah. Batu batuan yang tersusun indah , angin yang sepoi-sepoi serta pemandangan yang pas sekali untuk duduk di pasir yang putih lembut atau di batu untuk menyaksikan turunnya matahari di Tanjung Berikat.
sisi utara pantai Tanjung Berikat

 Sangat disayangkan sekali Tanjung Berikat yang memiliki potensi wisata tetapi tidak didukung oleh fasilitas-fasilitas seperti air bersih, gazebo, tempat sampah, pedagang yang berjualan. dan juga dihimbau untuk para pengunjung Tanjung Berikat untuk selalu menjaga kebersihan agar pantainya tetap bersih dan nyaman untuk dikunjungi.




Share: